Jurnal Ilmiah Indonesia

Mengakselerasi Pendidikan Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Perkembangan Anak Sekolah Dasar

E-mail Print PDF
Article Index
Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Pengertian
Perkembangan Bahasa
Perkembangan Intelegensi
Perkembangan Kepribadian
Perkembangan Moral
Perkembangan Kesadaran
1. kecerdasan majemuk
2. kecerdasan linguistik
Penutup
All Pages

 

Perkembangan Bahasa

Usia SD merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal masa ini anak sudah menguasai sekitar 2500 kata dan pada masa akhir ( usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai 50.000 kata (Abin Syamsudin M:1991). Bahkan di negara maju anak kelas 1 SD telah menguasai 20.000 sampai 24.000 kata dan ketika masuk SMP telah menguasai 80.000 kata (Hurlock:1978a,189)

Anak usia SD telah mengenal khusus, seperti nama, warna, kosa kata waktu: pagi, siang, malam, musim kemarau, musim penghujan, kosa kata uang, kosa kata ucapan populer, kosa kata sumpah dan bahasa rahasia. Perbedaan individual dalam ukuran kosa kata pada setiap tingkat usia disebabkan oleh perbedaan kecerdasan, pengaruh lingkungan, kesempatan belajar, dan motivasi belajar. Berdasarkan penelitian anak perempuan pada setiap tingkatan umur memiliki kosa kata lebih luas daripada anak laki-laki (Hurlock: 1978a,189)

Analisis kalimat yang diucapkan anak di bawah usia delapan tahun mengungkapkan bahwa anak sudah mulai menggunakan kalimat yang agak lengkap sejalan dengan bertambah lengkapnya tata bahasa mereka. Dalam penggunaan kalimat sederhana, kalimat majemuk, dan kalimat kompleks terdapat peningkatan, walaupun kecil tetapi konsisten. Salah satu bentuk kalimat yang paling umum digunakan adalah kalimat bertanya. Meyer dan Shene telah menelaah bentuk dan fungsi pertanyaan anak dan melaporkan bahwa bentuk kalimat tersebut bersesuaian dengan model perkembangan kognitif Piaget.

Dalam masa perkembangan bahasa anak ini tidak jarang terjadi kecacatan bahasa. Kecacatan bahasa anak biasanya meliputi 3 kelompok, yaitu 1) cacat dalam arti kata, 2) cacat dalam pengucapan, 3) cacat dalam struktur kalimat.

Kerugian psikologis yang timbul dari cacat tata bahasa ada(ah 1) salah nalar (pemikiran yang tidak betul), 2) kesan sosial yang tidak menyenangkan, 3) penilaian diri yang tidak menyenangkan, dan 4) pola bicara kebiasaan.

Hubungannya dengan kewibahasaan (bilingualism) ditengarai bahwa kedwibahasaan lebih merupakan hambatan daripada kelebihan anak (Hurlock : 1978a, 200). Berikut disajikan kondisi yang berkaitan dengan kedwibahasaan yang membahayakan penyesuaian sosial anak.

1. Berpengaruh terhadap penyesuaian sosial

2. Berpengaruh terhadap pekerjaan sekolah

3. Berpengaruh terhadap perkembangan bicara ,

4. Berpengaruh terhadap pemikiran (membuat bingung)

5. Berpengaruh tehadap diskriminasi sosial

6. Berpengaruh terhadap ketidaksamaan.



Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu egocentric speech dan socialised speech. Egocentric speech adalah anak berbicara untuk kesenangan diri sendiri (monolog) dan tidak berusaha untuk bertukar ide atau memperhatikan pendapat seseorang. Socialised speech adalah bicara yang disesuaikan dengan pembicaraan atau perilaku orang lain yang diajak bicara. Hal ini terjadi ketika anak mampu mengubah cara pandang (perspektif) mental mereka dan mampu memandang situasi dari sudut pandang orang lain.

Perkembangan socialised speech dibagi dalam lima bentuk, yaitu 1) tukar gagasan (adapted information), 2) penilaian terhadap ucapan atau perilaku orang lain (critism), 3) perintah (command), permintaan (request)-, ancaman (threat), 4) pertanyaan (questions), dan 5) jawaban (answers). (Syamsu Yusuf LN:2005,120)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak ialah 1) faktor kesehatan, 2) inteligensi, 3) status sosial ekonomi keluarga, 4) jenis kelamin, 5) hubungan keluarga (Syamsu Yusuf LN:2005,121-122)



Perkembangan Emosi

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku seorang anak. Emosi positif (perasaan senang, bersemangat, atau rasa ingin tahu) akan mempengaruhi anak dalam berkonsentrasi untuk belajar. Emosi yang positif akan membangun antusiasme anak dalam belajar, memperhatikan penjelasan guru, bergairah membaca buku, mengerjakan tugas, diskusi dll. Sebaliknya, emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah akan menghambat aktivitas belajar.

Jenis-jenis emosi yang berkembang pada masa anak usia SD ialah 1) rasa takut, 2) rasa marah, 3) rasa cemburu, 4) duka cita, 5) kebahagiaan (Hurlock : 1978a; Syamsu Yusuf LN:2005).

1. Rasa Takut

Usia 2-6 tahun merupakan masa puncak bagi rasa takut yang khas di dalam pola perkembangan yang normal. Anak usia ini belum berpengalaman mengenali apakah sesuatu yang ditakutkan itu benar-benar mengancam dirinya atau tidak. Pada umumnya rasa takut pada kalangan anak-anak bersifat fantastis, samar-samar, takut pada kegelapan dan makhluk knajinatif seperti pada karakter tokoh dongeng, film, televisi. Pada anak yang lebih tua mempunyai berbagai ketakutan yang berhubungan dengan did atau status, misalnya takut gagal, takut dicemooh, dan takut berbeda dengan anak-anak lain. Ada seiumlah pola emosi - yang berkaitan dengan rasa takut, yaitu a) rasa malu (shvness), b) rasa canggung (embarrassment), c) rasa khawatir (worry), dan d) rasa cemas (anxiety).

2. Rasa Marah

Seiring dengan bertambahnya usia anak, rasa marah cenderung lebih dominan daripada rasa takut. Hal ini disebabkan oleh adanya kesadaran pada diri anak bahwa ekspresi rasa marah lebih efektif, guna mendapatkan perhatian dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Di samping itu, rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak dan lebih mudah didapatkan. Reaksi kemarahan dibagi menjadi dua, yaitu impulsif dan ditekan. Reaksi impulsif biasa juga disebut agresi. Reaksi ini ditujukan kepada manusla, binatang, atau objek lain yang dapat berupa reaksi fisik, kata-kata serta dapat berkategori ringan dan kuat. Ledakan kemarahan yang kuat atau tempertantrums merupakan kemarahan yang khas anak-anak. Mereka ridak ragu-ragu melukai orang lain dengan cara apapun. Pada anak yang lebih tua, kemarahan sudah dapat diekspresikan dengan kata-kata (bahasa). Reaksi kemarahan yang ditekan selalu berada di bawah pengendalian. Mereka mencoba mawas diri dan tidak serta-merta menyalahkan orang (objek lain) di luar dirinya (impunitive).

3. Rasa Cemburu

Rasa cemburu pada anak timbul karena dia merasa akan kehilangan rasa kasih sayang dari seseorang - Yang dekat dengannya. Situasi yang menimbulkan rasa cemburu selalu merupakan situasi sosial. Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu, yaitu a) rasa cemburu yang tumbuh di rumah, b) rasa cemburu yang tumbuh di sekolah, dan c) rasa cemburu-yang muncul karena merasa ditelantarkan.

4. Rasa Duka Cita

Rasa duka cita merupakan situasi kesengsaraan emosional (trauma psikis) yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang sangat dicintai. Pada umumnya orang tua tidak menginginkan situasi ini dialami oleh anaknya, oleh karena itu situasi duka cita ini bukan menjadi situasi yang sangat umum dialami oleh anak-anak. Ada tiga alasan mengapa demikian, pertama orang tua berusaha keras agar anaknya terhindar dari situasi ini karena dianggap dapat merusak kebahagiaan, baik pada masa anak-anak maupun pada masa dewasa. Kedua, anak-anak mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakan duka cita dengan mengalihkan ke sesuatu hal yang menyenangkan. Ketiga, tersedianya pengganti untuk sesuatu yang hilang yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari kesedihan kepada kebahagiaan.

5. Rasa Ingin Tahu (Curiosity)

Rasa ingin tahu ialah dorongan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu atau objek-objek tertentu di sekitar anak. Pada anak usia dini reaksi keingintahuan ditunjukkan dengan a) bereaksi secara positif terhadap unsur—unsur yang baru, aneh, atau misterius dengan bergerak menuju benda atau objek tersebut kemudian memeriksa atau memainkannya, b) memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkungannya, c) mengamati lingkungannya guna mencari pengalaman baru, d) saksama dalam memeriksa objek guna mengetahui lebih banyak seluk beluk objek tersebut (Maw & Maw dalam Hurlock: 1978a, 225). Pada anak usia yang lebih tua rasa ingin tahu diekspresikan dengan bertanya. Masa haus nama ini dimulai dari usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia sekitar enam tahun.

6. Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah situasi emosional yang menyenangkan. Kebahagiaan berkaitan erat dengan keadaan fisik yang sehat dan perasaan puas karena berprestasi atau mencapai tujuan tertentu yang ciungmkan. Semakin keras berusaha untuk mencapai tujuan, semakin besar pula kebahagiaan jika akhirnya berhasil. Anak usia SD sudah mampu rnerespon sesuatu yang ganjil, kecelakaan kecil, olok-olok, menjadi sesuatu yang tidak mencemaskan, bahkan menggembirakan.

7. Kasih Sayang

Kasih sayang ialah reaksi emosional terhadap sesuatu yang menyenangkan untuk memberikan perhatian atau perlindungan terhadap orang lain, hewan, atau benda. Ekspresi kasih sayang dapat berupa perhatian yang hangat, bisa verbal ( kata-kata ) atau nonverbal ( fisik ). Atmosfer kasih sayang orang tua kepada anak akan mempengaruhi pola kasih sayang anak pada orang tua atau saudaranya. Apabila orang tua dan saudaranya menaruh kasih sayang kepada anak, maka anak tersebut akan menaruh kasih sayang pada mereka. Kasih sayang memang mestinya saling berbalas dalam lingkup sosial. Bossard dan Boll menyebut sebagai The Empathic Complex (Hurlock: 1978a,228). Namun, kasih sayang yang berlebihan pun berdampak buruk bagi anak, yaitu anak tidak mampu membina dan mengembangkan kompleks empatik kepada orang lain. Anak yang berlebihan menerima kasih sayang akan cenderung mendorong anak memusatkan kasih sayang pada diri sendiri dan menuntut kasih sayang dari orang lain (manja). Anak yang demikian kelak berpotensi menjadi orang yang tidak matang kecerdasan emosionalnya.

 



Last Updated on Thursday, 20 June 2013 05:05  

Pengguna Online

We have 5 guests online

Jumlah Tamu

Content View Hits : 105353

Social Network

Banner

Pooling

Apakah Anda setuju jika salah satu syarat kelulusan sarjana (S1) adalah mempublikasikan tulisanya dalam jurnal ilmiah?
 

Sponsor

Link